Sabtu, 19 Maret 2011

A Little Piece Of Heaven (Part I)

Dingin. Api perapian hanya memberi sedikit kehangatan di kulitku, tak mampu melawan dingin yang menusuk hingga tulang-tulangku. Merasakan dingin yang semakin membuatku menggigil, aku pun bisa membayangkan angin kencang yang menderu-deru di luar sana bahkan meskipun jendela-jendela tua itu tidak berderak-derak dan tidak perlu membuka dengan sendirinya karena angina yang terlalu kuat bertiup.
“Hey, kenapa au diam saja?”,tanya Bryan tiba-tiba. Astaga aku benar-benar lupa bahwa dia ada di sini di sampingku.
“Apa? Kau tadi bilang apa?”, tanyaku satu menit kemudian.
“Ap-apa? Jadi kau tadi tidak mendengarkanku sama sekali?”. Anehnya, dia mengatakan itu dengan wajah kecewa sekaligus sedikit memerah.
“Ohh maaf, aku tadi melamun. Jadi, kau tadi bilang apa?”.
Bryan hanya terdiam. Entah apa yang berkecamuk di pikirannya saat itu. Dia menatapku, lebih tepatnya menatap mataku. Mungkin dia ingin aku juga menatap matanya, jadi kulakukan saja. Kemudian dia lebih mendekat ke sampingku dan tiba-tiba saja meraih tanganku. Bahhh, apa yang dipikirkannya?? Tentu saja aku langsung menepiskannya.
“Ada apa?”, tanyaku dingin.
“Ak-aku ingin bilang….”, dan tiba-tiba saja seluruh mukanya memerah seketika.
“Katakan saja”.
“Aku ……Sammy, aku menyukaimu”. Terlihat sekali setelah mengatakan itu, wajahnya terlihat lega meskipun masih terlihat malu-malu.
“Payah, jangan katakan hal bodoh seperti itu”.
“Aku sungguh-sungguh menyukaimu”.
“Berhentilah mengatakan itu”.
“Tapi, aku sungguh-sungguh menyukaimu, Sammy”.
“Bahhhh, lalu kau ingin apa?”. Aku mulai berdiri, tak suka dengan pembicaraan semacam itu.
“Astaga Sammy, aku menyukaimu, tentu saja aku ingin menjadi pacarmu”, kata Bryan sambil berdiri di hadapanku dan menatap lekat-lekat mataku, namun tak memberi pengaruh apapun bagiku.
“Takkan pernah. Dan pulanglah”, kataku dengan tegas sambil berlalu. Dia mencoba menghentikanku dengan menarik pergelangan tanganku, tetapi aku dengan kuat enepiskannya lalu berlari menuju kamarku.
Aku mencoba untuk yang kesekian kalinya melelapkan pikiranku, tetapi aku hanya mampu menutup mataku. Aku masih terbayang dengan kejadian tadi, tapi bukan berarti aku menyesalinya. Aku sangat mengenal Bryan. Dia orang yang sangat baik, terutama padaku. Dia memang seorang teman yang sangat baik. Hanya itu saja. Aku tak pernah mengharapkan sesuatu yang lebih darinya. Aku hanya ingin menjadi sahabatnya. Astaga, aku tiba-tiba teringat pada Sean, Finn, dam Arnie. Ya, mereka juga sama saja seperti Bryan. Mereka dulu sahabat baikku. Mereka juga menyukaiku. Tapi yang terjadi aku malah menyakiti mereka.


Satu bulan kemudian …..

            “Sepertinya sekarang dia membencimu”, gumam Cassandra dengan tatapannya yang semakin lama membuatku gerah. Dia selalu menatapku seakan aku telah membunuh pacarnya. Huh!
            “Mungkin aku memang berbakat membuat orang-orang membenciku”,sahutku sambil menampilkan senyum sinisku.
            “Atau mungkin…….semua lelaki yang mendekati Sammy memang ditakdirkan mengalami patah hati. Bisa saja kan?”, kata Zerelda ngawur.
            “Bahhh ! Kau bicara seakan aku ini gadis pembawa sial bagi semua lelaki !”, aku berteriak sambil menjitak jidat Zerelda. Well, satu detik kemudian aku baru menyadari kalau suaraku tadi lumayan keras sehingga hamper setengah isi kantin memperhatikanku, termasuk Bryan.
            “Ini semua gara-gara kau !”, ujarku pada Zerelda dengan suara yang kubuat serendah mungkin.
            “Kenapa kau menolak Bryan? Dia pasti merasa sangat patah hati. Kau membuatnya terluka, Sammy !”, kata Cassandra tiba-tiba. Yang dikatakan Casey itu tentu saja membuatku sedikit terkejut. Lalu aku mendongak menatapnya, dia sedang memandangi Bryan yang mejanya berada di sudut kantin. Tatapannya benar-benar dalam. Dia sepertinya…..
            “Kau menyukai Bryan”, hanya kalimat itu yang dapat mendeskripsikan jawaban atas semua tatapan anehnya padaku dan semua ketidaksetujuan serta kemarahannya setelah aku melukai hati Bryan.
            “Ap-apa kau bilang?”. Wajah Casey terlihat memerah. Dia segera mengalihkan pandangannya dari Bryan dan langsung menjadi salah tingkah.
            “Kau benar-benar menyukainya, Casey”.Entah kenapa tiba-tiba saja ada setitik rasa bersalah menyeruak di rongga hatiku.
            “Astaga, apa itu benar?”, tanya Zee yang terlihat sangat terkejut.
            Jadi….selama ini, sahabatku menyukainya….
            Casey terdiam namun wajahnya semakin memerah. Itu menunjukkan bahwa yang kukatakan tadi itu benar adanya.
            Akan tetapi, Bryan malah menyukaiku. Casey pasti sangat terluka menghadapi kenyataan itu….


Tidak ada komentar:

Posting Komentar